Waktu terus berjalan tanpa henti, bahkan untuk jeda setengah
detik pun tidak bisa. Waktu seakan enggan untuk diajak kompromi, enggan dan
tidak mau untuk diajak bernegosiasi. Dan waktu tak pernah mau untuk mengulang
ke masa lalu. Yah, begitulah waktu. Andai aku bisa mengajak waktu untuk
bernegosiasi, aku akan memintanya untuk kembali ke masa itu. Masa dimana
percikan api masalah mulai memercik . Seandainya bisa, aku akan merdamkannya
bahkan mematikan percikan api tersebut. Dan aku akan mengajaknya untuk bangkit
dan melangkah bersama menggapai cita-cita.
Uh, kenapa waktu itu aku tak mempedulikannya? kenapa waktu
itu aku tidak mengalah? kenapa, kenapa, kenapa?Penyesalan itu senantiasa
menghampiriku setiap kali aku mengingatnya.
Rania, Rania, Rania.Tiba-tiba nama itu kembali muncul. Yah,
itulah nama sahabat terbaikku yang harus terluka karena diriku. Betapa jahatnya
diriku, betapa buruknya diriku. Pantaskah aku menjadi seperti ini setelah aku
membuat sahabatku sendiri terpuruk.
Ku langkahkan kakiku, setapak demi setapak tanpa arah tujuan
yang jelas. Tiba-tiba aku terhenti di sebuah taman kecil dekat pusat kota. “Ah,
kenapa harus disini” batinku.
Taman ini adalah saksi bisu dimana aku bertemu dengan
sahabatku, sekaligus berpisah dengannya. Dan saat itu aku sudah tidak
mengetahui kabar dia lagi. Sampai ni saat ini pun aku masih mengingat ucapan
terakhir dari sahabatku tersebut, “Kina, terima kasih sudah membuatku menangis”
Kata-kata itu membuatku gemetar dan tiba-tiba air mataku menetes layaknya
aliran sungai.
Dahulu aku pernah berjanji kepada sahabatku, bahwa kita akan sama-sama melangkah
menggapai cita-cita. Sahabatku terlalu lemah untuk mewujudkan cita-citanya, dan
aku terlalu serakah mewujudkan cita-citaku. Sampai aku merelakan segalanya
untuk menggapai cita-citaku.
Harusnya dia yang mendapat beasiswa ke luar negeri bukannya
aku, tetapi karena aku takut dengan ayahku yang menginginkannku untuk
bersekolah ke luar negeri. Akhirnya aku mengambil hak Rania untuk bisa ke luar
negeri. Padahal ia sangat menginginkan beasiswa itu. Dan beberapa bulan setelah
itu aku mendengar dari kawan SMA ku bahwa Rania telah menikah. Ia
dijodohkan karena ia tak bisa ke luar
negeri.Padahal ia ingin ke luar negeri karena alasan utamanya untuk menghindari perjodohan itu
Dan saat ini hanya penyesalan yang melingkupi seluruh
kehidupanku, apalah arti sebuah gelar seorang master apabila aku harus
kehilangan sahabat terbaikku.” Rania, maafkan aku” Hanya itu yang ingin aku
ucapkan untuknya, tetapi sampai saat ini aku tidak dapat mengucapkannya.
By: Kotimah


