+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Minggu, 19 Januari 2014

terima kasih

09.17

Share it Please

Terima Kasih Sobat
oleh: K_Imah

Kukayuh sepeda mini berwarna biru milikku, hadiah pemberian ayah atas keberhasilanku yang telah memasuki sekolah favorit di daerahku, sekolah yang selama ini menjadi kebanggaan masyarakat daerah ini telah merubah pola pikir sekaligus pandanganku terhadap arti sebuah kehidupan.
Rasanya keringat ini tak mau berhenti mengucuri keningku hingga baju biru putih kebesaran sekolah menengah pertama seperti baru keluar dari mesin cuci.Entah mimpi apa aku sampai senekat ini, kukayuh tanpa henti  namun apa daya tubuh ini punya titik lelah yang harus kuturuti kemauannya, akhirnya aku berhenti dibawah sebuah pohon mangga di pinggir jalan, kutengok jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Betapa terperanjatnya aku, tanpa terasa aku sudah 3 jam mengayuh sepedaku tanpa arah dan tujuan. Akupun sadar, hal konyol ini seharusnya tidak aku lakukan.Ingatan akan masa lalu membuatku terbawa pada memori  masa silam yang telah mengusik ketenanganku...
“Hei Fem.” sapa salah seorang teman dari arah belakang
ku tau itu adalah suara nindra, temanku yang saat itu aku anggap sebagai teman baik
“Hei, ada pa nin?” kubalas sapaannya yang terdengar sedikit terasa mengganjal.
Nindra terdiam beberapa saat, entah apa yang ada dipikirannya, akupun tak bisa menebak jalan pikirannya itu.
Tak berapa lama ia pun membuka suara, kudengarkan dengan seksama setiap kata-kata yang ia utarakan, ku coba untuk memahami apa yang ia katakan dan mencoba untuk mencari solusi dari perkataan tersebut.
“Gitu Fem, Menurutmu gimana?”
Kucoba memberikan solusi terbaik yang sedari tadi telah aku simpan di dalam hardisk otakku dan sekarang saatnya untuk diprint outkan dari pc otak.
“Tapi Fem, kalau Uzi marah gimana? aku tuh nggak enak sama dia nanti” jawab Nindra, seakan ia tak terima dengan solusiku.
“Tapi Nin, bukannya mending sakit diawal daripada nanti kalau dilanjut malah sakitnya berlarut-larut” sanggahku yang juga tak terima apabila solusiku bukan solusi terbaik saat itu.
Nindra terdiam, seakan ia mulai mempertimbangkan solusiku tersebut.
Keesokan harinya kudapati Nindra terlihat mondar-mandir didepan kelas. Terbesit niat dalam hati untuk menghampiri.
“Nin, ngapain mondar mandir disini sana masuk kelas, pelajaran favoritmu mau dimulai tuh.” tegurku padanya sembari mengingatkannya bahwa saat ini adalah saat untuk untuk menerima suguhan ilmu dari pengajar.
Ternyata nasehatku didengar oleh temanku ini, semenjak dia punya masalah dengan Uzi aku dan dia menjadi akrab, mungkin karena aku sering ngasih solusi buat dia walaupun aku dan dia beda kelas.
2 tahun berlalu, kini saatnya untuk berfikir keras menghadapi ujian nasional yang tinggal menghitung bulan kira-kira 6 bulan lagi ujian tersebut akan dilaksanakan.Aku tak mengetahui dari mana asap itu muncul, tiba-tiba Nindra perlahan-lahan menjauhiku, akupun berfikir mungkin dia bosan atau yang lainnya karena aku hanya berfokus pada persiapan ujian nasional maka aku tak memperdulikan sikapnya kepadaku, akupun lebih memilih berteman dengan orang yang memang mau berteman dengannku, Nindra pun sekarang sudah mempunyai teman baru dan mungkin teman tersebut lebih baik dan lebih asyik dari aku.
Hari ini adalah hari yang menegangkan, setelah 3 tahun menimba ilmu di sekolah menengah pertama dan 3 hari menghadapi ujian nasional, hari ini adalah pengumuman kelulusan. dag dig dug... tak sabar rasanya mendengar pengumuman kelulusan ini.
“Sekolah kita lulus semua mbak...” ucap slah seorang teman
Rasanya sedikit lega, ketika wali kelas memberi amplop berisi lembaran yang bertuliskan lulus dan juga jumlah nun aku sedikit tercengang, ternyata jumlah nunku lumayan bagus dibandingkan dengan jumlah nun teman-temanku. Namun, nun teman baikku, Nindra cukup rendah, rasanya kasihan namun bagaimana lagi itu sudah hasil akhir dari usahanya. Kuhampiri dia dengan maksud memberi semangat agar ia tidak bersedih, namun ia malah berpaling lalu pergi tanpa menyapaku, rasanya perih banget akupun menyesal telah mengenalnya, harusnya dari dulu ia tak usah kukenal namun apa boleh buat waktu tak bisa diputar kembali. tiba-tiba dari mulutku terucap tiga buah kata yang berat untuk diucap
“Terima Kasih Sobat...”
Tiba-tiba bunyi nada dering hpku membuyarkan lamunan akan masa lalu, akupun segera bangkit lalu mulai mengayuh sepadaku lagi, kukayuh hingga aku menemukan jalan hidupku yang akan membuatku bahagia sekaligus menjadikanku menjadi sosok yang tegar, sabar dan ikhlas. “ Tuhan bantu aku menjadi hambaMu yang sabar, ikhlas dan tegar”

0 komentar:

Posting Komentar