+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Sabtu, 05 Oktober 2013

Mawar Yang Rapuh

17.20

Share it Please



Semerbak harumnya tak  akan pernah terlupakan, kekuatannya tak kan tergoyahkan dan kesetiaannya akan sebuah penantian tak kan pernah terkalahkan dan senyumnya tak akan pernah tergantikan.
“Sil, Apa kamu marah lagi sama aku?” Tanya si Amed ke Syasil
“Kenapa emangnya, aku mau marah ke kamu atau nggak itu kan nggak ada pengaruh apa-apa ke kamu” Syasil tak mau kalah dengan ucapan Amed
Amed pun diam sejenak, ia masih mengumpulkan segenap kekuatannya untuk menghadapi serangan bom moloton dari Syasil
Dan sesaat kemudian
“Kalau kamu memang marah sama aku, bilang saja sejujurnya nggak usah pakai disembunyikan segala.Aku tahu kok mungkin kamu nganggap aku lebai tapi kamu harus tahu apa yang aku berikan ke kamu nggak pernah akan aku ambil kembali” Amed pun menyerang balik dengan jawaban yang tak kalah, bahkan jawaban itu membuat Syasil terdiam di sudut taman kota, sementara itu Amed dengan segenap kekuatan yang tersisa mencoba untuk terus berjalan meninggalkan Syasil  yang masih terdiam seribu bahasa.
Tit..tit...tit
Tiba-tiba suara Hpnya membuyarkan semua lamunan tentang apa yang baru saja Syasil alami.SMS dari  Ibuya yang menyuruh  untuk segera pulang.
“Baru pulang dari mana Sya?”Tanya Ninza, kakak sepupu perempuan Syasil, yang sudah 5 tahun ini tinggal dengan keluarganya.
Syasil tak langsung menjawab.Walaupun Ninza telah tinggal di rumah Syasil selama 5 tahun tetapi Syasil tetap tidak mudah untuk mengakrabkan diri dengan saudara sepupunya itu.Ia pun segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidurnya.
Tok..tok..tok..
“krek”Suara pintu kamar yang dibuka oleh Syasil.Kemudian muncul gadis kecil yang lucu, ia adalah adik perempuan Syasil.
“Kak Sya,dipanggil Ibu.”Ucap Lili, nama gadis kecil tersebut
Kembali Syasi tak menjawab, ia hanya mengagukkan kepala pertanda ia akan menemui Ibunya.Ia hapal, kalau Ibunya tak ke kamarnya pasti ada sesuatu hal penting yang akan dibicarakan.
“Sya, Ibu mau mengatakan sesuatu ke Sya tapi Ibu pengen Sya nggak marah dengan apa yang Ibu katakan ke Sya”Ibu mulai membuka lembaran awal pembicaraan, dengan ditemani gemericik kolam ikan koki di belakang rumah, sekaligus tempat biasa mereka berkumpul.
Sya tak merespon kata-kata Ibunya, dua hari ini ia masih berduka dengan keadaannya yang semakin menyedihkan. Ia menjauh dari Amed yang notabenya adalah sahabatnya yang paling peduli dengannya tapi karena sesuatu hal akhirnya Amed ikut jadi sasaran, tidak peduli dengan Mawar kesayangannya di taman, serta tak lagi membacakan dongeng untuk Lili.
“Sebenarnya, Ibu kandung kamu adalah Ibu Citra....”
Tiba-tiba air matanya meleleh dari gurun salju di matanya.Ia tak bisa membendungnya lagi. Ucapan Ibu membuatnya semakin menambah kesedihan yang ia alami,ternyata selama ini orang yang dibenci adalah Ibu kandungnya sendiri.
“Ibu hanya mengatakan yang sebenarnya, sudah lama Ibu menyembunyikan semua ini dari kamu dan sebelum ayah kamu meninggal, ia berwasiat menyuruh Ibu untuk menceritakan yang sebenarnya ke kamu” Ucap Ibu.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia mencoba sekuat tenaga untuk bangkit meninggalkan tempat ia tadi berpijak.
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Syasi bagaikan mawar yang rapuh. Ia hanya termenung di dekat jendela kamarnya dengan air mata yang terus menetes,Hanya buku Diari yang selalu setia mendengarkan curahan hatinya.
Mawar yang dulu begitu kuat, kini telah menjadi mawar yang rapuh. Dahulu, durinya yang tajam mampu melawan musuh yang siap menerkam, tapi kini seolah duri itu menjadi duri rapuh yang sebentar lagi mendekati ajalnya.
Untuk semua kesedihannku kutumpahkan kepadamu.
tertanda
Mawar Syasiliia
Hanya itu yang bisa ia tulis di buku diarinya itu, ia enggan untuk meneruskan curahan hatinya, sekarang ia hanya bisa meratapi bunga mawarnya yang semakin mengering disudut taman yang letaknya tepat bersebelahan dengan kamarnya.


0 komentar:

Posting Komentar