+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Minggu, 16 Februari 2014

Maaf

09.13

Share it Please

Waktu terus berjalan tanpa henti, bahkan untuk jeda setengah detik pun tidak bisa. Waktu seakan enggan untuk diajak kompromi, enggan dan tidak mau untuk diajak bernegosiasi. Dan waktu tak pernah mau untuk mengulang ke masa lalu. Yah, begitulah waktu. Andai aku bisa mengajak waktu untuk bernegosiasi, aku akan memintanya untuk kembali ke masa itu. Masa dimana percikan api masalah mulai memercik . Seandainya bisa, aku akan merdamkannya bahkan mematikan percikan api tersebut. Dan aku akan mengajaknya untuk bangkit dan melangkah bersama menggapai cita-cita.

Uh, kenapa waktu itu aku tak mempedulikannya? kenapa waktu itu aku tidak mengalah? kenapa, kenapa, kenapa?Penyesalan itu senantiasa menghampiriku setiap kali aku mengingatnya.
Rania, Rania, Rania.Tiba-tiba nama itu kembali muncul. Yah, itulah nama sahabat terbaikku yang harus terluka karena diriku. Betapa jahatnya diriku, betapa buruknya diriku. Pantaskah aku menjadi seperti ini setelah aku membuat sahabatku sendiri terpuruk.
Ku langkahkan kakiku, setapak demi setapak tanpa arah tujuan yang jelas. Tiba-tiba aku terhenti di sebuah taman kecil dekat pusat kota. “Ah, kenapa harus disini” batinku.
Taman ini adalah saksi bisu dimana aku bertemu dengan sahabatku, sekaligus berpisah dengannya. Dan saat itu aku sudah tidak mengetahui kabar dia lagi. Sampai ni saat ini pun aku masih mengingat ucapan terakhir dari sahabatku tersebut, “Kina, terima kasih sudah membuatku menangis” Kata-kata itu membuatku gemetar dan tiba-tiba air mataku menetes layaknya aliran sungai.
Dahulu aku pernah berjanji kepada  sahabatku, bahwa kita akan sama-sama melangkah menggapai cita-cita. Sahabatku terlalu lemah untuk mewujudkan cita-citanya, dan aku terlalu serakah mewujudkan cita-citaku. Sampai aku merelakan segalanya untuk menggapai cita-citaku.
Harusnya dia yang mendapat beasiswa ke luar negeri bukannya aku, tetapi karena aku takut dengan ayahku yang menginginkannku untuk bersekolah ke luar negeri. Akhirnya aku mengambil hak Rania untuk bisa ke luar negeri. Padahal ia sangat menginginkan beasiswa itu. Dan beberapa bulan setelah itu aku mendengar dari kawan SMA ku bahwa Rania telah menikah. Ia dijodohkan  karena ia tak bisa ke luar negeri.Padahal ia ingin ke luar negeri karena alasan utamanya untuk menghindari perjodohan itu

Dan saat ini hanya penyesalan yang melingkupi seluruh kehidupanku, apalah arti sebuah gelar seorang master apabila aku harus kehilangan sahabat terbaikku.” Rania, maafkan aku” Hanya itu yang ingin aku ucapkan untuknya, tetapi sampai saat ini aku tidak dapat mengucapkannya.

 By: Kotimah

0 komentar:

Posting Komentar