Semerbak harumnya tak akan pernah terlupakan, kekuatannya tak kan
tergoyahkan dan kesetiaannya akan sebuah penantian tak kan pernah terkalahkan
dan senyumnya tak akan pernah tergantikan.
“Sil, Apa kamu marah lagi sama aku?” Tanya si Amed ke Syasil
“Kenapa emangnya, aku mau marah ke kamu atau nggak itu kan nggak
ada pengaruh apa-apa ke kamu” Syasil tak mau kalah dengan ucapan Amed
Amed pun diam sejenak, ia masih mengumpulkan segenap kekuatannya
untuk menghadapi serangan bom moloton dari Syasil
Dan sesaat kemudian
“Kalau kamu memang marah sama aku, bilang saja sejujurnya nggak
usah pakai disembunyikan segala.Aku tahu kok mungkin kamu nganggap aku lebai
tapi kamu harus tahu apa yang aku berikan ke kamu nggak pernah akan aku ambil
kembali” Amed pun menyerang balik dengan jawaban yang tak kalah, bahkan jawaban
itu membuat Syasil terdiam di sudut taman kota, sementara itu Amed dengan
segenap kekuatan yang tersisa mencoba untuk terus berjalan meninggalkan
Syasil yang masih terdiam seribu bahasa.
Tit..tit...tit
Tiba-tiba suara Hpnya membuyarkan semua lamunan tentang apa yang
baru saja Syasil alami.SMS dari Ibuya
yang menyuruh untuk segera pulang.
“Baru pulang dari mana Sya?”Tanya Ninza, kakak sepupu perempuan
Syasil, yang sudah 5 tahun ini tinggal dengan keluarganya.
Syasil tak langsung menjawab.Walaupun Ninza telah tinggal di rumah
Syasil selama 5 tahun tetapi Syasil tetap tidak mudah untuk mengakrabkan diri
dengan saudara sepupunya itu.Ia pun segera masuk kamar dan merebahkan tubuhnya
diatas tempat tidurnya.
Tok..tok..tok..
“krek”Suara pintu kamar yang dibuka oleh Syasil.Kemudian muncul
gadis kecil yang lucu, ia adalah adik perempuan Syasil.
“Kak Sya,dipanggil Ibu.”Ucap Lili, nama gadis kecil tersebut
Kembali Syasi tak menjawab, ia hanya mengagukkan kepala pertanda ia
akan menemui Ibunya.Ia hapal, kalau Ibunya tak ke kamarnya pasti ada sesuatu
hal penting yang akan dibicarakan.
“Sya, Ibu mau mengatakan sesuatu ke Sya tapi Ibu pengen Sya nggak
marah dengan apa yang Ibu katakan ke Sya”Ibu mulai membuka lembaran awal
pembicaraan, dengan ditemani gemericik kolam ikan koki di belakang rumah,
sekaligus tempat biasa mereka berkumpul.
Sya tak merespon kata-kata Ibunya, dua hari ini ia masih berduka
dengan keadaannya yang semakin menyedihkan. Ia menjauh dari Amed yang notabenya
adalah sahabatnya yang paling peduli dengannya tapi karena sesuatu hal akhirnya
Amed ikut jadi sasaran, tidak peduli dengan Mawar kesayangannya di taman, serta
tak lagi membacakan dongeng untuk Lili.
“Sebenarnya, Ibu kandung kamu adalah Ibu Citra....”
Tiba-tiba air matanya meleleh dari gurun salju di matanya.Ia tak
bisa membendungnya lagi. Ucapan Ibu membuatnya semakin menambah kesedihan yang
ia alami,ternyata selama ini orang yang dibenci adalah Ibu kandungnya sendiri.
“Ibu hanya mengatakan yang sebenarnya, sudah lama Ibu
menyembunyikan semua ini dari kamu dan sebelum ayah kamu meninggal, ia
berwasiat menyuruh Ibu untuk menceritakan yang sebenarnya ke kamu” Ucap Ibu.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia mencoba sekuat tenaga untuk
bangkit meninggalkan tempat ia tadi berpijak.
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, Syasi bagaikan mawar yang
rapuh. Ia hanya termenung di dekat jendela kamarnya dengan air mata yang terus
menetes,Hanya buku Diari yang selalu setia mendengarkan curahan hatinya.
Mawar yang dulu begitu kuat, kini telah menjadi mawar yang rapuh.
Dahulu, durinya yang tajam mampu melawan musuh yang siap menerkam, tapi kini
seolah duri itu menjadi duri rapuh yang sebentar lagi mendekati ajalnya.
Untuk semua kesedihannku kutumpahkan kepadamu.
tertanda
Mawar Syasiliia
Hanya itu yang bisa ia tulis di buku diarinya itu, ia enggan untuk
meneruskan curahan hatinya, sekarang ia hanya bisa meratapi bunga mawarnya yang
semakin mengering disudut taman yang letaknya tepat bersebelahan dengan
kamarnya.

